Minggu, 09 Januari 2011

Now this blog in English

Hello all..

This blog from now on will be posted in english, so if you want to see another version of this blog with bahasa indonesia just go to another unggulcenter official blog.

This blog will be updated every week.

Why in english? simply because i want to write in english so it will improve my english writing skill. Yes, my written english not good yet i don't use tools like google translate. Maybe just few words hehe.. I have my pride :-P

So, enjoy this blog okay?
Selengkapnya...

Jumat, 19 Maret 2010

Pernyataan AOSI tentang Usulan Indonesia masuk Watch List Gara-gara Open Source

Sebagai informasi, bagi teman-teman yang mengikuti perkembangan usulan IIPA yang mengusulkan Indonesia bersama beberapa negara lain masuk kategori watchlist gara-gara pemerintahnya pro-open source. Ini tanggapannya, semoga bisa menjadi masukan berharga…


PERNYATAAN AOSI MENGENAI USULAN IIPA UNTUK MEMASUKAN INDONESIA KE DALAM SPECIAL 301 WATCH LIST

___________________________________

No. 005/AOSI/LOS/III/2010

Bulan Februari 2010, International Intellectual Property Association (IIPA) meminta U.S. Trade Representative (USTR) untuk memasukkan Indonesia, Brazil, India, Filipina, Thailand dan Vietnam dalam “Special 301 watch list”. Alasannya antara lain adalah kebijakan pemerintah negara-negara ini untuk mendorong penggunaan Open source Software (OSS) di Institusi Pemerintah.

Pemerintah Indonesia melalui Surat Edaran Menteri PAN Nomor: SE/01/M.PAN/3/2009 menganjurkan Lembaga Pemerintah Pusat dan Daerah agar menggunakan perangkat lunak legal, yang salah satunya adalah Open Source Software atau OSS. Anjuran penggunaan Open Source Software ini dianggap mendorong mindset yang tidak menghargai kreasi Intellectual Property dan membatasi institusi pemerintah untuk memilih solusi terbaik untuk menjawab kebutuhan organisasi dan kebutuhan rakyat Indonesia.

Sehubungan dengan permintaan IIPA tersebut, Asosiasi Open Source Indonesia menyatakan sikap sbb:

• AOSI menyayangkan sikap IIPA sebagai salah satu lobby group dari Amerika Serikat, yang telah berusaha menghalangi usaha Pemerintah Indonesia yang justru ingin menghargai Hak atas Kekayaan Intelektual dengan menganjurkan penggunakan perangkat lunak Open Source untuk menggantikan perangkat lunak bajakan.

• IIPA telah berusaha mengaburkan keterbukaan dalam pilihan antara lain penggunaan OSS, dengan cara menekan setiap usaha untuk mencari alternatif dari keharusan menggunakan produk dari pihak tertentu dan menghindar untuk bersaing secara sehat.

• Berbagai pihak, terutama Open Source Initiative (OSI) secara kategorik telah menolak sikap IIPA tersebut, dan mengecam sikap tidak adil IIPA terhadap OSS, dan menyebutnya sebagai kasus mencolok mata dalam penegakan hukum yang selektif untuk menyembunyikan absurditas dari klaimnya dengan sempitnya penerapan yang dilakukan (It is a blatant case of selective enforcement, one which hides the absurdity of it’s claims by the narrowness of their application).

• AOSI sepakat dengan OSI bahwa tindakan IIPA tersebut lebih didasarkan atas kepentingan tertentu, dan ketakutan atas inovasi serta model bisnis yang baru dengan berkembangnya OSS di Indonesia.

• AOSI sepakat dengan organisasi sejenis dari Amerika Serikat yaitu Open Source For America (OSFA) yang secara tegas mengecam sikap IIPA, serta menyebut tindakan IIPA tersebut tidak bertanggungjawab dan menyesatkan.

• AOSI menghimbau agar Pemerintah dapat secara tegas menetapkan posisinya terhadap tindakan IIPA tersebut, mengingat bila Indonesia dimasukkan ke dalam Special 301 Watch List, dampaknya dapat berlaku pada bidang perdagangan secara umum.

• AOSI menyerukan agar pemanfaatan OSS tetap digalakkan, karena dengan menganjurkan penggunaan OSS, Pemerintah Indonesia tidak lain sedang berusaha untuk menghormati Hak atas Kekayaan Intelektual dengan tidak membajak dan menegakkan kemandirian dalam bidang TIK, tanpa menutup persaingan dengan yang lain, meskipun IIPA telah menyudutkan Indonesia dengan menyebutkan bahwa penggunaan OSS tidak mendorong inovasi dan telah menutup kesempatan pihak tertentu untuk bersaing.

• AOSI mendukung Pemerintah Indonesia untuk terus mendorong anak bangsa dalam melakukan inovasi dan kreasi dalam bidang TIK, untuk membentuk kemandirian, membantu tumbuhnya perekonomian dan kelancaran jalannya pemerintahan yang bersih serta ikut serta dalam membangun kesejahteraan bangsa.

Jakarta, Maret 2010

Atas nama Komunitas Open Source Indonesia


Asosiasi Open Source Indonesia
Selengkapnya...

Senin, 15 Februari 2010

Filosofi Open Source di OSUM LP3T-NF


Free & Open Source Software, sering disingkat FOSS. Itulah yang sudah sering didengar oleh mahasiswa program profesi LP3T Nurul Fikri. Lebih-lebih, mahasiswa yang diajarkan kompetensi di Linux ini familiar dengan kata “Linux/FOSS”.

Nah, pada sesi OSUM (Open Source University Meetup) kali ini, Senin, 15 Februari pukul 13.30 hingga 15.00 dibahas tuntas tentang konsep Open Source. Mulai dari Free software, Open Source software dan lisensi-lisensinya. Tak lupa dibahas sedikit beberapa istilah lain yaitu “proprietary” dan “closed source”.

Dibawakan dengan santai oleh narasumber, Unggul Sagena, OSUM Leader sekaligus staf pengajar di LP3T Nurul Fikri, mahasiswa dipuaskan dengan penjelasan yang sederhana, ringkas namun mengena. Tidak hanya mendapatkan ilmu pengetahuan baru, mahasiswa juga disuguhkan insight mengenai tataran filosofis dan tataran bisnis yaitu berbisnis open source. Ini sesuai dengan tuntutan kompetensi dan tuntutan industri dikala mereka lulus kelak.

Selain berbincang lebar mengenai Open Source mulai sejarah, filosofi, perkembangan dan tujuannya, mahasiswa yang hadir juga mendapatkan goodies berupa pulpen khas dari Sun Microsystems. Semua peserta yang kurang lebih 30 orang mendapatkan jatah masing-masing satu pulpen multifungsi, bisa untuk menulis tinta biasa maupun untuk sebagai stabillo marker.

Bagi-bagi pulpen juga diikuti pemberian kaos I Love Solaris persembahan dari Sun. Untuk kaos, diberikan kepada Danil Syahrizal, moderator yang juga koordinator kelas program profesi. Semoga tambah semangat dan mengoordinir teman-temannya di event yang akan datang.

Salam OSUM!














Selengkapnya...

Minggu, 31 Januari 2010

Zuper Duper Heboh Linux Training Vaganza Awal Tahun @LP3T-NF!

Linux 3 in 1

Paket belajar Linux singkat, 3 inti dasar penguasaan Linux yaitu Instalasi Linux, Desktop Linux, dan Aplikasi Perkantoran di Linux. Dalam 1 Hari Saja. Sangat Cocok untuk yang penasaran dan ingin mengenal Linux, mencoba aplikasi dan BISA Linux, namun waktu singkat dan padat.


Training for Computer Trainer


Belajar Intensif Linux dari dasar, plus teknik mengajar sehingga cocok untuk yg berminat menjadi Instruktur komputer berbasis Linux. Juga cocok bagi Anda yang hanya menguasai komputer windows namun ingin lengkap menguasai Linux dan berkeinginan untuk menyebarkan Linux sebagai sistem operasi yang legal, halal, komplit dan reliabel!

Paket Kursus Awal Tahun

Special Cashback Rp 300 rb untuk kursus-kursus Web Design Complete (dasar hingga bisa), Linux complete, Graphic Design Complete. Hanya berlaku hingga pendaftar kursus dibulan Februari, jadi buruan daftar!

Linux Professional Institute (LPI) Exam Test dan Preparation Class

Sebagai Approved Training Partner (training resmi) LPI satu-satunya di Indonesia, LP3T-NF menyelenggarakan training persiapan mengambil sertifikasi LPI dengan harga terjangkau dan jaminan mengulang GRATIS*

Dapatkan sertifikasi internasional Linux dengan langsung Test (LPIC-1), atau biar tambah pede, ikut training persiapan nya terlebih dahulu. Mantabh!

Seminar Gaul Di Dunia Maya : Kiat Praktis Memanfaatkan Internet, Blog dan Jejaring Sosial


Untuk kamu, yang masih sekolah atau yang baru mengenal asyiknya facebook-an, ngeblog dan twitteran, cocok banget untuk mengikuti seminar ini. Terbatas hanya di LP3T-NF Cinere dan LP3T-NF Jakbar, seminar ini juga banyak dooprize dan biaya seminarnya juga murah, cocok untuk kantong kamu-kamu. Selain mengungkap tip trik bergaul yang baik, yang asyik, juga dibawakan dengan model demo, kamu bisa langsung coba dan buktikan sendiri.


Special Class : Workshop Linux

Enterprise Email Server with Zimbra Collaboration Suite
Membangun Proxy Server dan Firewall

Bagi Anda professional dan penggiat Linux jangan lewatkan kesempatan mendapatkan pengetahuan sangat berguna di dunia industri IT, Hanya di bulan FEBRUARI!

Program Profesi Satu dan Dua Tahun Siap Kerja


Sebuah program dengan sertifikasi TI, dengan sistem kuliah SKS, dan legal formal diakui oleh Badan Akreditasi Nasional PNF Depdiknas. Dipercaya oleh pemerintah dan dunia industri. Cocok sekali bagi Anda yang menginginkan kompetensi berbasis kompetensi Linux dari dasar, tertata rapi dan dibekali matakuliah kompetensi dasar + Pendidikan Agama Islam agar selain menjadi professional, juga menjadi professional yang santun, berwawasan dan berakhlak baik. Sesuatu yang beyond daripada skill semata! Dapatkan harga khusus Gelombang I hingga Mei 2010.


Syarat, Ketentuan dan Informasi dan pendaftaran hubungi customer service LP3T-NF di :

LP3T-NF Depok, Jl Margonda Raya 522 Depok Telp. 021 7874223
LP3T-NF Cinere, Jl Cinere Raya Blok D/6 Telp 021 7545181
LP3T-NF Jaksel, Jl Mampang Prapatan Raya 17A Telp 021 7975235
LP3T-NF Jakbar, Jl Taman Kebon Jeruk Meruya Ilir Blok A/3(Intercon Plaza) Telp 021 5846839
LP3T-NF Jaktim, Jl Paus Raya 925 Rawamangun Telp 021 9134780
LP3T-NF Bekasi, Jl A Yani Sentra Niaga Blok B.I/12 Telp 021 8853537
LP3T-NF Balikpapan, Jl A Yani 17 (Depan Hotel Benakutai) Telp 0542 422000

Informasi di website : www.nurulfikri.com

Quick Contact :

YahooMessenger
lp3tnf (umum)
nf_comp_jaksel (jaksel)
nf_comp_depok (depok)
nf_comp_jaktim (jaktim)
nf_comp_jakbar (jakbar)
nf_comp_cinere (cinere)
nf_comp_bekasi (bekasi)
nf_comp_balikpapan (balikpapan)

twitter : @nurulfikricom (umum)

Facebook :
nurulfikri comp (umum)
nurulfikri jakbar
nurulfikri balikpapan
nurulfikri bekasi
nurulfikri cinere
nurulfikri jaksel
nurulfikri depok


Selengkapnya...

Jumat, 22 Januari 2010

Jurnalisme Warga : Memanfaatkan Kemudahan IT di Era Horisontal

Kemudahan. Itulah kata yang tepat jika mengasosiasikan internet untuk aktivitas sehari-hari. Mulai dari istilah otomasi –bukan otomatisasi (automation) dalam hal aplikasi perkantoran (office automation) yang menggunakan software sehingga mengetik, melaporkan ke atasan dan memberikan informasi bisa seketika melalui email client dan aplikasi perkantoran yang populer.


Demikian juga jika Anda berminat dibidang jurnalistik. Baik secara “serius” dengan menjadi reporter, editor atau kontributor lepas yang saat ini mau tidak mau sangat mengandalkan Internet. Bayangkan, mengirim informasi berita dengan cepat, rekaman video maupun gambar ke meja redaksi tanpa terkendala ruang dan waktu. Tentu menjadi nilai tambah bagi media tempat bekerja dalam informasi tang Efektif dan Efisien. Diferensiasi inilah yang menjadi tulang punggung media Online seperti detik, okezone maupun vivanews.

Fenomena Jurnalis Warga
Nah, apabila ingin lebih leluasa dalam menggarap informasi yang bernilai berita, Anda bisa menjadi seorang jurnalis warga (citizen journalist) yang handal. Jurnalisme Warga atau citizen journalism menurut Steve Outing dalam tulisannya, “11 Layers of Citizen Journalism” adalah tindakan nonprofesional yang memainkan peran aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, penelitian dan penyebaran informasi.

Citizen Journalism atau disebut saja Jurnalisme Warga memiliki kata kunci yaitu “non profesional”. Ini sekaligus menjadi pembeda dengan istilah serupa seperti civic journalism (jurnalisme publik) atau community journalism (jurnalisme komunitas). Jurnalisme publik dan komunitas dikembangkan oleh wartawan profesional di AS ketika mendapati ketidakpuasan publik terhadap politik di negeri Paman Sam tersebut di era 1988-an. Keduanya tidak saya bahas lebih jauh ditulisan singkat ini. Anda bisa melihat perbedaannya, misalnya melalui wikipedia dengan mengetikkan kata kunci “Citizen Journalism”.

J.D. Lasica (2003) dalam “What is Participatory Journalism”, mengkategorikan jurnalisme warga menjadi beberapa tipe yaitu :
1.Partisipasi warga/pemirsa dalam bentuk menulis blog pribadi, memasang foto-foto dan informasinya dari kamera digital atau handphone, dan menulis mengenai berita-berita biasa yang terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggalnya saja.
2.Website independen yang memuat informasi dan berita.
3.Situs berita yang dibuat dan dikembangkan secara penuh, bersama-sama oleh sebuah komunitas terentu dan dengan tujuan pemberitaan di ranah berita tertentu.
4.Situs media yang kolaboratif, mengumpulkan berbagai berita umum dan kontributornya berasal dari banyak ragam media.
5.Media-media lain yang bisa dimanfaatkan sebagai media informasi berita, misalnya email dan milis (thin media).
6.Situs penyiaran pribadi.

Di Indonesia, mayoritas partisipasi warga pada tipe pertama, kedua dan ketiga. Dan sebagai warga yang menjadi “jurnalis dadakan” tapi dengan niat yang tinggi, diantara enam jenis tipe yang bisa Anda pilih tersebut, Anda bebas untuk “tidak profesional” dan mulai menulis hal-hal yang “biasa” asal bernilai berita dan ingin Anda beritakan ke banyak orang. Masalah kaidah jurnalistik yang baik, tinggal belajar otodidak melalui berbagai media. That's all.

Namun bukan tidak mungkin, berita-berita “biasa “ inilah yang justru menarik untuk dibaca dan didiskusikan. Mulai dari kucing tetangga yang melahirkan, hingga kecurigaan dengan tetangga sebelah yang mirip dengan buronan teroris. Semua bisa menjadi berita, oleh non profesional, oleh Anda. Ceritakan dimana? Tentu melalui sarana internet, yaitu bisa di blog Anda, bisa juga di situs komunitas jurnalisme warga yang mulai banyak. Misalnya Panyingkul yang bermarkas offline di Makassar, atau Wikimu di Surabaya yang merangkum masyarakat yang ingin berbagi berita. Juga ada jurnalismewarga dot com maupun situs berita seperti kabar indonesia dot com. Banyak sekali pilihan, dan jika jeli bisa berbuah tambahan pendapatan untuk penulis loh. Banyak lomba penulisan, reportase, lomba fotografi maupun fee dari penulisan yang bisa didapatkan.


Horisontalisasi dan Jurnalisme
Saat ini, citizen journalism menjadi salah satu buzzword terhangat dalam jagat jurnalisme. Model jurnalisme warga ini juga mampu memosisikan diri sebagai media alternatif selain media konvensional. Kenapa? Hal ini disebabkan oleh asumsi bahwa jika “warga biasa” yang melaporkan maka tingkat “kebenaran” berita lebih tinggi sebab berkembang opini di masyarakat sendiri, bahwa berita yang ada bisa saja –bahkan sering terjadi adanya manipulasi berita ataupun memelintir berita, men-dramatisasi berita dan memasukkan aspek bisnis sangat dalam kepada berita sehingga berita yang ditulis maupun disampaikan sudah sangat bernilai bisnis. Contohnya berita yang bertele-tele, berita yang memojokkan (tidak cover both side) dan seterusnya. Jurnalisme warga diyakini sebagai sebuah alternatif pemberitaan yang langsung oleh masyarakat tanpa niat “bisnis”.

Selain itu, di era horisontalisasi yang menurut pakar marketing internasional, Hermawan Kartajaya, masanya “new wave marketing”, tradisi kesejajaran antara pemasar dan konsumen menyebabkan berita-berita yang tidak formal, sederhana, point of view yang berbeda, dan experiental menjadi rujukan konsumen. Sisi word of mouth untuk memperbanyak konsumen lebih penting daripada CRM (Customer Relationship Management) dengan tujuan repeat buying saja. Ini tentu ditangkap oleh banyak marketer dari berbagai lini produk, termasuk jurnalisme. Televisi mengandalkan “video kiriman pemirsa”, internet dari berita-berita kilat yang dikirim banyak anggota sebuah situs berita online, dan media cetak mengandalkan kontributor-kontributor lepas di daerah. Sedemikian penting sudut pandang dan penyajian yang humble dan terkesan apa adanya tanpa tujuan atau kepentingan politis dibalik media. Itu yang menyebabkan dari sisi produsen (pemilik bisnis jurnalisme) menjadi hal yang penting untuk mengistimewakan para jurnalis warga sebagai bagian dari penguatan posisi media mereka.

Di dalam horisontalisasi, Media internet memainkan peranan penting. Dus, memainkan peranan penting juga dalam perkembangan dan pengembangan jurnalisme warga. Setiap warga masyarakat bebas untuk memilih menjadi penikmat informasi, misalnya sekedar mencari berita di situs-situs berita Online, menjadi kontributor ke berbagai macam situs berita hingga dalam rangka pembentukan opini dan menyampaikan informasi.

Horisontalisasi menjanjikan adanya kesejajaran antara pemasar dan konsumen dalam rangka terjadi penjualan (sales). Jika dulu pembeli adalah raja, ternyata konsep itu juga sudah usang, sebab dalam pernyataan itu ada yang “dibawah” dan ada yang “diatas”. Oleh sebab teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang pesat, maka informasi-informasi dan “second opinion” sejatinya sudah dicari oleh calon konsumen (dalam dunia jurnalisme berarti pembaca) sehingga pelayanan berlebihan dari pemasar (dalam hal ini produsen industri media)pun, dianggap biasa karena “ada maunya”. Untuk itulah sekali lagi, partisipasi masyarakat penting dalam hal jurnalisme. Ini menjanjikan dan menjadikan betapa informasi lebih banyak diperlukan sebelum melakukan “decision making” dalam hal pembelian produk. Lalu, terkait dengan kebenaran informasi, walau belum tentu itu yang benar, namun semakin banyak informasi yang didapat dari individu-individu berbeda yang menulis berdasarkan eksperiental, semakin memantapkan pilihan dalam menyerap informasi. Ini yang diinginkan semua pihak, pembaca, masyarakat dan ini pula yang ideal.


Mudahnya Jurnalis Warga
Blog, adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah jurnalisme warga ini. Diawali dengan istilah Weblog (Web + Log) yang merupakan catatan harian di internet oleh para peselancar web (web surfer), awal tahun 2000-an di masa internet booming, bermunculan lah situs-situs blog seperti blogger, wordpress, multiply, blogdrive, hingga ke lokal seperti blogdetik, dag dig dug dan bedeng dot com. Ya, sebagai catatan, di blogosphere (jagat blog dunia), menurut Technorati (search engine yang mengkhususkan diri pada blog) sudah ada 133 juta blog! Dan uniknya, perkembangan blog ini selain harus selalu di-update beritanya, juga “mewajibkan” silatuhahmi antar blogger secara Online agar blog menjadi dinamis dan selalu interaktif. Ada RSS Feed, Feedburner, Feedweaver dan sejenisnya untuk stay connect dan stay informed pada suatu blog atau situs berkarakter blog.

Nah, apabila sudah mempunyai blog, Anda sudah bisa secara resmi menggunakannya sebagai media untuk memberikan informasi-informasi, dari sudut pandang pribadi mengenai berbagai hal. Ini salah satu “prasyarat” tidak resmi untuk menjadi jurnalis. Dan jurnalis itu basic-nya ya menulis, jadi, Start writing right after you have your own blog!

Ok, sampai disana, Anda sudah on the right step. Jika ingin lebih serius, menjadi Jurnalis warga dapat dilakukan siapa saja. Anda bisa kemudian menjadi reporter, editor, tenaga IT media Online, bahkan menjadi pemilik sebuah media Online pun bisa dilakukan.

Lalu apa sih yang perlu dipersiapkan jika ingin menjadi seorang jurnalis demikian? Tentu gadget seperti kamera digital, koneksi internet yang banyak terdapat di warnet dan kafe internet, laptop dengan konektivitas Wi Fi, atau Anda bisa menggantinya dengan cukup satu gadget saja, misalnya penulis merekomendasikan dua merk smartphone, yaitu Blackberry Javelin atau E90 Communicator yang memang mumpuni untuk aktivitas jurnalisme warga. Atau merk dan jenis lain yang memiliki kemampuan hampir serupa. Sebab Anda butuh smartphone yang sudah membenamkan internet (idealnya 3G atau HSDPA), Camera dengan resolusi yang baik, misalnya 2 Megapixel ke atas, dan aplikasi browser, aplikasi pushmail, aplikasi office juga pdf viewer, dan beragam fasilitas lain yang menunjang Anda untuk take the shot, recording suara ataupun gambar, serta menginformasikannya melalui internet yang sudah terkoneksi baik via Wi Fi di Hotspot area sambil minum kopi atau langsung via web browser. Apabila kapabilitas gadget Anda kurang maksimal, tambahan sebuah Laptop pun sepetinya menjadi alat lebih bagus untuk dijadikan media menulis offline di Aplikasi perkantoran, baru kemudian log in ke situs atau blog di internet dan mem-publish tulisan Anda dilengkapi dengan gambar-gambar. Dengan semakin murahnya laptop terutama di jajaran netbook yang rata-rata berprocessor Intel Atom, cukup bagi Anda merogoh kocek dikisaran 2-3 juta rupiah saja untuk mendapat konektivitas ala Jurnalisme warga yang Online dan bisa berkirim berita dengan cepat dan setiap saat. Bahkan pasar merespons fenomena laptop murah ini dengan meluncurkan produk-produk laptop berkualitas dengan harga yang murah. Jika dulu laptop seharga 3 – 5 juta hanya untuk laptop produksi lokal, sekarang Lenovo (yang mengakuisisi merk IBM untuk laptop), Compaq maupun Dell asal Amerika sudah demikian terjangkau layaknya laptop lokal. Bahkan, laptop merk Elevo sudah dijual seharga 2 juta saja! Dan itu dari jajaran notebook dengan performa untuk berbagai keperluan multitasking secara optimal, bukan netbook yang dari berbagai sisi menemui keterbatasan resources dan aplikasi.

Adanya internet berarti adanya kemudahan. Jika Anda berminat berkontribusi mengabarkan kepada semua orang sebuah informasi yang bernilai berita –tentu bukan narsis dan menceritakan diary personal atau hobi Anda, maka Anda sudah dengan mudah bisa melakukan itu. Anda bahkan bisa jadikan ini hobi baru Anda. Silakan gunakan perangkat “senjata” Anda dimanapun berada. Jepret foto menarik, tulis beritanya di email. Kirim melalui handphone atau laptop, atau via warnet. Jadikan Anda eksis di dunia maya dengan berita-berita yang mencerahkan, inspiratif, bagi pengetahuan, mengasah otak dan pemikiran, dapatkan teman-teman yang banyak, dan dapatkan uang dari aktivitas menyenangkan ini!

Selengkapnya...

Minggu, 17 Januari 2010

Kecewa dengan Linux

Kadang saya kecewa. Kecewa dengan keteguhan hati menggunakan Linux. Terlalu Pede dengan mensosialisasikan Linux, mengikuti milis Linux Aktivis dan menjadi anggota berbagai Kelompok Pengguna Linux Indonesia (KPLI).

Saya kecewa dengan diri saya. Seorang lulusan ilmu sosial yang belajar Linux, itupun tidak banyak, hanya untuk mengerti memakai grafis di Linux dan untuk berani menggunakan Linux untuk kegiatan sehari-hari seperti internet, chatting, menulis. That's it.

Saya kecewa dengan lingkungan. Lingkungan yang menganggap seorang yang menggunakan Linux adalah yang Geek. Yang harus mengerti banyak hal, mengerti command line, SSH, Jaringa, Programming. Bagaimana dengan saya yang hanya menggunakan aplikasi perkantoran itupun apa adanya.

Kecewa dengan lingkungan yang memperlakukan saya seakan seorang yang bisa Linux dan harus bisa Linux.

Saya kecewa dengan diri sendiri dan lingkungan. Kecewa kalau untuk menjadi 'penganjur' untuk menggunakan Linux kita harus menjadi geek. Kita harus mengetahui konsep Free dan Open Source sampai dalam. Kita harus bisa setting jaringan, sistem administrasi.

Saya kecewa. Kadang. Dengan kemampuan informatika yang sangat terbatas dan selalu serba retorika saja. Kecewa hanya bisa mendengar, membaca namun tetap tiada bisa mempraktekkannya.

Rasa kecewa. Tanpa Sesal. Karena sudah terlanjur. Karena saya tidak bisa komputer. Tidak melek IT. Tidak bisa ngutak atik Windows jadi sama bodohnya, tidak bisa ngoprek Linux.

Skala 1-10.

Saya berada di 2.

Jadi, jangan kecewakan saya lagi...

Selengkapnya...

Kamis, 05 November 2009

Awas! Ada Yang “Waras” di Jalan Raya


Yang Waras Ngalah. Yup, kalimat pamungkas itu terngiang ditelingaku. Kalimat yang diucapkan Pak Dodi Budiono, seorang instuktur keselamatan Indonesia Defensive Driving Center (IDDC) pada saat breakout session Ford Driving Skills for Life (DSFL) Indonesia pada Pesta Blogger 2009. Lengkap dengan mimik muka dan gerak tubuhnya, mengangkat kedua lengan dan mengatakan dengan serius : ”yang merasa waras.. pasti dia akan mengalah..”

Haiyaa! Event pesta blogger kali ini memang sangat mengesankan. Mulai dari games-games, joget ala ontohod, hingga senyum-senyuman dengan Mas Enda Nasution. Muter-muter sebelum acara dimulai, saya melihat-lihat kondisi sekitar, siapa tau ada artis, bisa saya ajak foto-foto, siapa tau ada Fans, bisa ngajak saya foto-foto hehe.. Hmm. Ada beberapa rooms yang disekat. Untuk presentasi parallel session sepertinya, begitu saya pikir. Salah satu yang menarik hati adalah ruang berlabel “Ford Driving Skills For Life”. Mengapa, sebab kok ada hal yang begitu “cemen” seakan-akan penting. Gejolak egoisme dan “pria sejati'” yang bermental ngebut-ngebut dijalanan menyeruak. Apa kira-kira yang akan disampaikan ya.. ternyata oh ternyata, pas benar-benar mengikuti sesi ini, saya akhirnya sadar kalau saya harus “waras”.

Blogger adalah intelektual. Dekat dengan teknologi dan kehidupan modern. Artinya kalau diminta “waras” lebih bijak untuk merespons ketimbang yang “hidup dijalanan”. Mungkin itu jalan pikiran rekan-rekan dari DSFL Indonesia yang disponsori Ford Foundation ini. Ini tepat sekali, sebab disajikan presentasi yang “memukau”, “sedih” hingga “berdarah-darah”, Pak Dodi, pemateri dengan kepiawaian presentasinya mengajak peserta ber-Defensive, Safety, dan Eco Driving. Tunggu dulu, apa itu?

DSFL berbicara tiga hal yaitu bagaimana Smart Driving, Protecting Lives, sekaligus Saving Fuel. Got it? Nah, Smart Driving seperti apa, itulah yang disebut di dalamnya diistilahkan sebagai Defensive driving, Safety driving dan Eco Driving. Defensive driving bukan berarti ngomongin masalah perang saling serang, tapi justru Perilaku yang dapat membuat kita terhindar dari masalah. Baik yang disebabkan oleh orang lain, atau diri kita sendiri. Disinilah slogan “Waras” berlaku. Sebab ini lebih kepada pendekatan “intelektual” bagaimana mengemudi yang aman, benar, efisien dan jangan lupa, bertanggungjawab. Term kedua adalah Safety driving, terkait dengan penggunaan standard keamanan dalam mengemudi yang benar, plus, mental positif dan kewaspadaan terus menerus. Ketiga, Eco Driving yang bermakna “go green”, tercapainya tujuan berkendara yang efisien (hemat BBM) dan mengurangi polusi (ramah lingkungan).

Solusi ini di-breakdown menjadi 10 Tips berkendara yang diramu oleh DSFL untuk kita ber-smart driving, yaitu memakai seatbelt, penggunaan kaca spion, pengemudi yang defensive, mengatasi berbagai gangguan dalam berkendara termasuk larangan menelepon dan ditelepon pada saat menyetir, menjaga jarak aman saat mengemudi, pengoperasian gigi transmisi yang ideal, mempergunakan momentum kendaraan, mematikan mesin kendaraan, serta menghindari beban berat kendaraan.

Nah, inti dari tips dan kegiatan ini kalau menurut pendapat saya pertama, hal bersifat teknis yaitu kebendaan dan teknik mengemudi. Ini semua bisa diatur sedemikian rupa sebagai bagian dari persiapan berkendara. Sedia payung sebelum hujan. Mulai dari seatbelt/safety belt hingga tekanan ban diatur dalam persiapan ini.

Kedua, adalah hal yang bersifat spiritual-moral. Ini merupakan sarana vertikal (masalah takdir hidup dan mati) sekaligus masalah horisontal (terkait hubungan sesama manusia, bagaimana utk tidak menyebabkan orang lain menderita). Kurang lebih, masalah spiritual-moral ini teknis di lapangannya adalah selalu “berdoa” dan “memahami perasaan orang lain”. Mengemudi dengan 4-A yaitu Awareness(kesadaran), Alertness (kewaspadaan), Attitude (sikap mental), dan Anticipation (reaksi). Dalam mode inilah “tingkat kewarasan” kita diuji.

Sekarang dengan berpikir dewasa, matang dan kontemplasi, kita renungkan data-data dari Asian Development Bank (ADB) bahwa tahun 2003 SAJA, seluruh kecelakaan lalu lintas di Indonesia sebanyak 24,5 juta, dengan komposisi 97 persen diakibatkan faktor manusia (human error). Yup. Machine is a machine. It has no brain. Setuju 'kan? Lebih serem lagi, perbandingannya, 16 persen mobil dan 73 persen motor. Dari jumlah ini, “kesimpulannya” 1 juta korban luka-luka dan 30.000 meninggal dunia.

Fakta lebih anyar, Kepala AIP (Asia Injury Prevention) Foundation, Greig Craft, mengatakan kalau data statistik dari WHO (World Health Organization), mulai dari 2000 sampai 2015 kecelakaan di jalan raya kira-kira akan merenggut nyawa 20 juta dan lebih dari 2 milyar orang luka-luka, atau dirawat sebagai korban kecelakaan –dimana banyak terjadi di negara-negara berkembang. Yup, ini termasuk Indonesia. Siap?

Untuk itulah, langkah Ford Motor Company bekerjasama dengan AIP Foundation menyebarkan “virus” safety, defensive (smart) dan eco melalui program Driving Skill for Life ke beberapa negara di ASEAN (negara berkembang) agar pemahaman ini semakin baik dan semakin meningkat. Langkah ini patut kita dukung. Salah satu metode diseminasi dan sosialisasi adalah dengan break out session kemarin, serta banyaknya event-event rutin DSFL Field Training menjadi salah satu poin yang perlu dikembangkan lebih jauh. Pemerintah RI melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang menerbitkan sertifikasi kompetensi profesi, Departemen Perhubungan dan Direktorat Lalu Lintas Polri juga mendukung total program sejenis Corporate Social Responsibility (CSR) yang sangat bermanfaat untuk masa depan ini.

Lalu bagaimana dengan peran individual dalam hal ini? Apa action kita. Beberapa teman mungkin akan berpikir seperti ini, Ngerti sih ngerti, tapi bagaimana mewujudkannya di jalanan yang katanya “liar” dan “belantara kota”. Kalau kita kalah atau ngalah 'kan kita akan ditindas. Bahkan kalau kita “cuma” parkir aja bisa saja kena kecelakaan. Dengan kondisi jalan raya padat merayap, jalan sempit-sempit banyak mobil yang parkir, belum lagi ulah ugal-ugalan bis kota, Metromini, Bajaj dan sejenisnya, plus bonus Asap timbal dari knalpot. Lengkaplah penderitaan. Wajar kalau dijalanan kita emosian. Liat aja contoh gambar diatas, penuh sama metromini. Jadi bagaimana tuh?

Simpel aja deh.. Ehm--ehm, begini.. (sambil pasang kacamata dan merapikan kerah kemeja), memang, menurut konsep demokrasi maupun teori sosiologi-antropologi, entah sayup-sayup saya lupa pernah dengar dimana waktu kuliah di FISIP UI sekian taun yang lalu, dikatakan kalau identitas pribadi akan luntur menjadi identitas komunal dan kerumunan (crowd) sehingga pada saat 9 dari 10 orang bilang “lari..!” maka orang kesepuluh ikut lari. Atau dalam perspektif demokrasi dimana suara terbanyak adalah pemenang, terdapat adagium bahwa “jika 9 dari 10 orang tidak waras, maka 1 orang yang waras-lah yang dibilang gila”.

Saya ingin mengatakan, it's okay dibilang cemen, gila atau pengecut. Jangan terpengaruh emosional “pria sejati”, sebab pria sejati – sejatinya memikirkan penuh masa depan. Menghindari konflik yang tidak berarti dan menguras energi untuk tujuan yang tidak berpengaruh besar di masa depan. Bukan berarti menghindari konflik, tapi ini adalah konflik yang tidak berarti.

Apalah artinya ngotot dijalanan saling menyalahkan ketika kendaraan saling bersenggolan? Tau nggak sih. Kalau kita merasakan sendiri bahwa Jalan Raya adalah jalan MILIK BERSAMA, tentu kalau ada yang “macet” sedikit apalagi gara-gara “urusan pribadi” yang rugi, selain kedua orang tersebut, adalah orang lain! Ya, jadi macet, terhambat semua dan mulailah sumpah serapah dan klakson tanpa henti. Makin banyak dah “mudorat” berurusan dijalanan. Menurut pengalaman, biasanya kasus-kasus dijalanan ini paling minimal butuh lima menit utk penyelesaian. Itu pun lima menit untuk adu mulut dulu hehe.. apa jadinya jalanan yang punya umum kita jadikan arena untuk saling menyalahkan? Yang rugi banyak pihak. Yach begitulah, kita perlu hati-hati dan meminimalisir risiko sejak dini sebelum terjadi, betul?

Itulah contoh mengapa saya sangat setuju kalau “Yang Waras Ngalah”. Benar sekali, sebagai karyawan swasta dan harus melalui banyak “jalan tikus” biar ngepas waktunya sampai dikantor (dan pulang kembali ke rumah), sengaja mobil merupakan alat transportasi yang “haram”dipakai kalau untuk ngantor. Kalau weekend dan jalan-jalan ke mall it's okay. Apalagi rumah di bilangan Bogor.

Nah, pas ketika berkendara dengan tunggangan yang menurut istilah DSFL pada waktu presentasi break out yang lalu sebagai “besi diselimuti daging” alias motor (bebek pula) ada kejadian yang membuat saya menjadi “manusia kembali” dan ternyata, saya bisa juga “waras” horee!

Kejadiannya persis didepan kantor. Dan baru pagi ini (5 Nov 2009) saya diuji dengan “kewarasan” tersebut. Bagi yang hidup komuter, tentu tak asing dengan Depok dan trademark macetnya, margonda raya, sehingga ada “green way” ala Polisi setiap jam 16.00 sore hingga jam 20.00 malam (kadang lebih) selalu berlaku hingga saat ini. Kantor saya kebetulan tidak jauh-jauh amat, adanya di Jalan Margonda. Macet luar biasa mengakibatkan beberapa motor tau-tau ngambil jalan ditrotoar. Nah, pas didepan kantor, tentu saya mau masuk ke parkiran alias belok kiri dan udah masang lampu sen kiri. Eh pas belok, dari belakang, diatas trotoar sebuah motor Tiger datang agak kencang. Hampir nabrak. Dekat sekali, untung tidak menyenggol. Tapi si pengendara yang mungkin karena motornya keren, mulus, gede, badan beliau juga gede dan pakai helm fullface (jadi kesannya angker) bentak-bentak harusnya liat-liat kalau belok. Hah? Ngga salah ya.. (tau-tau inget kalimat pak Dodi, yang waras ngalah, urusan selesai). Oke, baiklah.. no emosi.. tapi mungkin perlu diberitahu dulu kondisinya dan berdialog lalu terjadilah komunikasi di pinggir jalan.

Pengendara Bebek (makhluk kecil tak berdaya):“Pak. Justu saya mau belok dan Anda kok motor lewat trotoar.”

Pengendara Tiger (makhluk buas) :”Liat-liat dong saya mo jalan lurus kok kamu belok-belok sembarangan”.

Si bebek :”Pak. Saya belok karena mo ngantor. Noh kantor saya disebelah kiri. Saya juga pake lampu sen nih pak masih nyala. Bapak ngapain di trotoar. Kalau ada polisi bisa kena loh pak. Biasanya banyak disini.”

Si Macan :(nada makin tinggi dan tidak mau ngalah dan ngomongnya masih yang itu-itu aja. Jelaslah, soalnya memang tidak ada argumen lain) “Ya kamu liat-liat dong kalau mau belok!”

Si bebek :”Oke oke pak. Maaf, Silakan lewat, ga ada yg lecet kan, untung gak kesenggol (sambil mengangkat tangan dan mempersilakan lewat).”

Si Macan : (masih marah-marah dan merasa menang berlalu sambil ngomel).

Hmm.. sebenarnya kalau mau diterusin dan cari siapa yang salah dan menang, saya diatas angin sebab sudah sesuai prosedur. Dan berdiri di kondisi yang benar. Akan tetapi apa sih yang didapat. Biar seram gitu, si Macan juga punya atasan, punya kantor yang nun jauh di Jakarta sana. Pergi ke kantor subuh-subuh. Kasihan kalau lima menit berantem, dia telat, bisa kena SP, bisa ga dapat “uang transport” tepat waktu dst. Kalau saya kan sudah didepan kantor hehe.. tersenyum dan let it go. Coba kalau itu terjadi pada saya, kasian kan. Lagipula, agar "berwibawa", biar salah, tidak boleh mengalah. Itu mungkin dipikiran beliau itu. jadi berikan kesempatan. Saya yakin dilubuk hati pasti deh dia merasa menyesal dan mengaku salah.

Jadi teringat, dulu sering emosian juga. Hehe.. Sekarang, See the positive way saja. Lebih caring, lebih berwibawa kita, dan sekali lagi, kualitas hidup meningkat. Saya buktikan sendiri, niscaya kalau adem. Tenang, personality traits nya bagus, dirumah kebawa-bawa loh. Istri bahagia, anak senang, keluarga happy, iklim rumah tangga sakinah mawaddah dan warohmah..mantabh.. inilah “pria sejati” idaman wanita (halah).. lanjut, gan..hehe

Sampai dikantor, kita juga bisa tersenyum. Hari ini, dapat pahala dan tidak menyulitkan orang. Biarlah orang ngomel-ngomel kan ada yang melihat diatas sana serta ada yang mencatat baik buruk perbuatan kita. Yup, saya sudah “waras” sekarang hehe..

Jadi Awas! Ada yang waras juga dijalan raya. Mudah-mudahan makin banyak yang waras sehingga tidak membahayakan orang lain. Biar 9 dari 10 orang dijalanan waras, sehingga yang gila bisa ikutan waras. Dan angka kematian dan kecelakaan menurun, kualitas hidup lebih baik, performa prima. Pulang kerumah istri dan anak menunggu dengan gembira. Simpan emosi dijalan untuk kualitas yang lebih baik dan untuk Indonesia yang lebih baik.

Yang Waras Ngalah. Good Drivers Just Drive. Tinggalkan yang buruk-buruk dijalan raya, marilah berkendara aman dan nyaman di jalan raya milik kita bersama. Be "Waras"! Thank you DSFL!


Selengkapnya...

Rabu, 04 November 2009

Linux Goes Ramadhan Bersama IGOS Center Depok


Dalam rangka menyambut bulan suci ramadhan, IGOS Center Depok bekerjasama dengan sekolah-sekolah di Depok dan Jakarta Selatan mengadakan program roadshow Pesantren Kilat dengan tema “Jika Ada yang Halal mengapa Pakai yang Haram?”. Tema ini dianggap cukup menggelitik dan mngusik keingintahuan, disebabkan waktu yang relatif tepat yaitu pada saat siswa belajar mengenal agama lebih dalam, yakni pada masa pesantren kilat di sekolah.

Program roadshow kali ini pun memilih sekolah yang bervariasi dan dianggap bisa merepresentasikan sekolah-sekolah dari berbagai latar belakang di daerah depok bogor dan jakarta selatan, lingkungan terdekat dari IGOS Center Depok. Linux goes Ramadhan menjangkau sekolah baik negeri maupun swasta, sekolah kejuruan (SMK) maupun sekolah umum (SMA), juga Madrasah (MA). Dari sekian sekolah yang menjadi target Pesantren Kilat

Dimulai dari SMK Pancoran Mas, Selama dua pekan, tepatnya 31 Agustus hingga 12 September 2009, tim IGOS Center Depok yang diwakili oleh Mgs Hendri dan Unggul Sagena segera melakukan roadshow presentasi tanpa lelah. SMAN 2 Depok, SMAN 1 Tajurhalang Kab Bogor, MAN 13 Jaksel, SMK Taruna Bakti Depok, bahkan 3 kali berkunjung untuk sosialisasi ke SMK YPIK Jaksel disebabkan ruangan Aula yang belum selesai dibangun sehingga “terpaksa” memakai ruang kelas.

Antusiasme siswa pun tidak kalah dengan pembicara. Terutama sekolah-sekolah yang sudah mengenal Teknologi Informasi, misalnya siswa-siswa dari Jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ) maupun Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) menghujani pembicara dari IGOS Center dengan pertanyaan-pertanyaan cerdas. Pembicara pun selalu melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang apabila dapat dijawab maka suvenir kaos, merchandise Linux dan sejenisnya langsung menjadi milik si penjawab. Model demikian mengundang siswa untuk memperhatikan setiap detil penjelasan dari IGOS Center Depok.

Diakhir acara, selain menyerahkan kenang-kenangan kepada Pihak Sekolah, IGOS Center juga tidak lupa menyebarkan kuesioner agar ke depannya, kegiatan roadshow sosialisasi Linux/FOSS ke institusi pendidikan semakin lebih baik dan terencana dengan matang. Agenda IGOS Center Depok memang tidak hanya terkait di sekolah semata, namun juga sosialisasi dan training, workshop dan berbagai event lainnya untuk kalangan official (guru dan staf) sekolah, kampus, lembaga swadaya masyarakat, institusi pemerintahan yang tidak perlu, repot-repot, hanya menyediakan kesempatan bagi IGOS Center Depok yang berumur belum genap satu tahun ini melakukan presentasi, party, bagi-bagi hadiah dan berbagi kegembiraan memakai Linux. Sistem operasi yang Legal, halal, lagi komplit!

Selengkapnya...

Sabtu, 31 Oktober 2009

The Open Source Way (Bag .2) Memaknai HKI ala Open Source



“Mazhab” Free Software dan Open Source
Jika ditulisan pertama, dijelaskan mengenai aktor-aktor yang berperan penting dalam sosialisasi Open Source--sekaligus faktor penting suksesnya implementasi TIK-- di negeri ini, maka secara budaya, penghargaan HKI menjadi signifikan manakala terkait dengan budaya apresiasi ketimbang budaya “SMOS”.

Memang walaupun terjadi perbedaan pemahaman antara pendukung Free & Open Source dengan yang “hanya” mendukung Open Source, namun tulisan ini dalam rangka memberikan titik tekan pemahaman mengenai cara melihat dan menghargai (apresiasi) produk dan layanan berbasis Open Source. Ini penting, sebab memaknai HKI “ala Open Source” berarti tanda tanya besar bagi masyarakat umum yang secara awam memandang apabila “free” dan apabila “open source” apakah bernilai ekonomis tinggi dan apakah jerih payah pembuatan software aplikasi nya menjadi hal yang disia-siakan alias tidak dihargai (terkait dengan HKI).

Untuk menjawab apa sih karakter Open Source dalam rangka Memaknai HKI, yang berarti perlindungan dan penghargaan atas intelektual seseorang –utamanya dalam hal industri peranti lunak, kita perlu sedikit berkenalan dengan konsep dan filosofi Fre & Open Source (FOSS) dan Open Source Software (OSS). Untuk itu, ada baiknya kita lihat pandangan Richard M. Stallman (RMS), seorang filosofer dan pendiri gerakan Free Software (Peranti Lunak bebas). Terutama tanggapan pria 'nyentrik' ini, ketika sebuah korporasi bisnis proprietary software tingkat dunia yang terkenal, membuat suatu proyek yayasan open source dengan tajuk 'open source foundation dan sudah menggelontorkan dana paling tidak 10 milyar rupiah untuk 'open source labs' yang bernama CodePlex Foundation ini.

RMS dalam press releasenya ketika diumumkan adanya yayasan open source dari Microsoft –seteru abadi Free Software, menulis bahwa terjadi kecurigaan mengenai yayasan bentukan microsoft tersebut menjadi sebuah skenario (ploy) dari Microsoft untuk 'menyerang' eksistensi komunitas FOSS. Menurut SMS, para developer yang tidak mengerti skenario ini akan terjebak dan terlena sehingga produk aplikasi free software yang dikembangkan akan bergantung (dependent) kepada platform proprietary.

Dalam bahasanya sendiri pria yang suka berpenampilan hippies ini berkata “If they don't understand the importance of this freedom, developers may succumb to Microsoft's ploys encouraging them to use weaker licenses that are vulnerable to "embrace and extend" or patent co-optation, and to make free software dependent on proprietary platforms.”

Juga dikatakan bahwa penggunaan istilah “commercial software” (peranti komersil) ketimbang “proprietary software” dari Microsoft' berusaha menunjukkan bahwa mau free atau proprietary, semuanya adalah software komersial. Istilah ini digunakan untuk membingungkan masyarakat (developer) sehingga memberikan penerimaan terhadap proyek open source labs tersebut, padahal maksud sebenarnya adalah lebih banyak membicarakan proprietary software saja.

Berdasarkan fakta itu, tentu developer dibawah CodePlex bentukan Microsoft tidak akan memikirkan tentang Freedom lagi. Dan memberikan pencerahan palsu bahwa bisnis free software adalah tidak mungkin tanpa dukungan perusahaan proprietary software seperti Microsoft.

Jika berbicara Open Source, bisa jadi developer yang mendukung filosofi “open source” namun tidak peduli dengan nilai kebebasan (value of freedom), tidak juga akan peduli apakah apakah produk mereka dijalankan di sistem operasi yang free atau sistem operasi yang proprietary (misalnya Windows). Disinilah yayasan open source Microsoft bermaksud mengambil pasar. Bagi pendukung FOSS, freedom tetap menjadi tujuan utama, sedangkan pendukung OSS, bisa jadi mengerti dan mendukung FOSS juga, namun bisa saja hanya melihat bagaimana OSS menjadi solusi, tanpa bersikap “ekstrim” terhadap “mazhab” lain.

Jadi jelas, berbeda antara Free/Open Source Software (FOSS) dengan Open Source Software (OSS) saja. Bos GNU, perusahaan yang banyak berkontribusi untuk free software ini melihat bahwa ada dua terminologi yang berbeda filosofi berdasarkan nilai-nilai yang juga berbeda. Yaitu nilai-nilai Free software yang berupa kebebasan (freedom) dan solidaritas sosial (social solidarity), sedangkan Open Source yang memiliki nilai kenyamanan penggunaan (practical convenience values) seperti software yang powerful, handal dan reliabel.

Dalam blog nya, bapak Free software ini mengatakan dengan jelas agar tidak terjebak dengan terminologi open source yang sesungguhnya tidak mengakomodasi empat kebebasan(freedom) yaitu

1.The freedom to run the program, for any purpose (freedom 0).
2.The freedom to study how the program works, and change it to make it do what you wish (freedom 1). Access to the source code is a precondition for this.
3.The freedom to redistribute copies so you can help your neighbor (freedom 2).
4.The freedom to improve the program, and release your improvements (and modified versions in general) to the public, so that the whole community benefits (freedom 3). Access to the source code is a precondition for this.

Seperti yang dijelaskan mengenai terminologi Free dan Open Source (Free software dan Open Source software) hampir tidak ada bedanya. Sebab kebanyakan memang merujuk kepada sebuah software yang sama. Akan tetapi perlu diingatkan bahwa keduanya memiliki dua nilai fundamental yang berbeda. Disatu sisi Open Source sebagai metodologi pengembangan (development methodology), dan filosofinya adalah bagaimana membuat software yang lebih baik (secara praktis). Disisi lain Free software adalah 'gerakan sosial' sebab hanya menurut RMS, hanya Free software yang menghargai kebebasan pengguna.

Inilah perbedaan “aliran” dalam “agama” yang sama. Kita tidak harus selalu sepaham, berpandangan sama, sebab ibarat naik Kereta, biar sama-sama kereta api tapi ada kelas Ekonomi ada kelas Eksekutif. Dua-duanya di rel yang sama, bukan di jalan aspal dan naik Limousine atau di udara naik Jet Pribadi. Kedua pendukung tentu berseberangan dengan semangat proprietary dan closed source software (PCOSS) dan sebaliknya, semangat Free & Open Source yang menjadi panji-panji dalam mengadopsi dan mengembangkan teknologi terbaik untuk bangsa dan umat manusia pada umumnya yang menurut bahasa RMS sebagai “Free World”.

Open Source : I Love You Full
Apa yang membuat (Free dan) Open Source berbeda? Open Source menghargai developernya dengan cara membolehkan untuk membuat produk unggulan dengan tanpa perlu bersusah payah memulai dari “anak tangga pertama”. Dan intinya dari yang FOSS tetap menjadi yang FOSS apalagi dengan lisensi GPL (GNU Public License) dimana sampai kapanpun lisensi tidak akan berubah.

Lalu darimana developer dan insan open source mendapatkan biaya? Tentu tidak hanya dari produk yang dibuat, walau dalam terminologi open source itu bisa saja menjadi andalan revenue yaitu membuat aplikasi dan menjualnya. Investasi paling besar di FOSS adalah training sehingga biaya training FOSS merupakan hal yang perlu disiapkan. Apakah cost? Bukan, bagi yang training, ini investasi sebab bentuknya pelatihan dan pendidikan yang akan melekat di si trainee (yang ditraining). Sedangkan trainer, lembaga pelatihan dan kursus, mendapatkan penghidupan dari situ. Jika mendevelop program pun, tidak usah khwatir akan “tidak punya duit” sebab open source –dalam arti metodologi pengembangan sebuah aplikasi-- yang terbuka, dapat dimanfaatkan sebab mencakup empat kebebasan (Free) yang sudah disebutkan dimuka. Sehingga untuk dijual pun menjadi sah.

Pembeli pun sah untuk membeli dengan harga pasar. Bisnis aplikasi ini juga menuntut kreatifitas mengembangkan dari program aplikasi yang sudah ada. Dengan kode sumber yang terbuka, inovasi dan kreatifitas produk akan diuji sehingga produk open source tidak akan “usang”,”basi” ataupun khawatir sewaktu-waktu tidak diperbaharuan lagi.

Ternyata memang dunia usaha mengatakan “I Love you Full” dengan open source. Statistik dari lembaga riset terkemuka dunia menunjukkan bahwa adopsi open source akan mencakup 80% dari aplikasi komersial (commercial apps) pada tahun 2012.

Bagaimana dengan proprietary dan closed source software? Bisnis ini lebih kepada jual beli lisensi dimana anda dilarang utk melakukan segala sesuatu tentang produk tersebut kecuali menggunakannya. Bahkan pengguna pun tidak benar-benar memiliki produk. Ya, sebab yang dibeli adalah lisensinya (berbayar) dan setelah itu digunakan saja tanpa tahu ada apa didalamnya dan bagaimana mengatasinya apabila ada masalah. Dari sisi bisnis, memang menguntungkan. Betapa tidak, ketergantungan tentu melahirkan pundi-pundi uang. Seseorang akan terpaksa membeli mahal program dan updatenya. Bisnis ini benar-benar membuat suatu produk dan menjadikannya produk yang seakan-akan sudah final.

Apa artinya bagi dunia kreatif? Selain akumulasi price yang berlebihan, sebab jika mau be legal, para desainer grafis dan multimedia mesti membeli software yang harganya mahal, sehingga hasil karya mereka pun 'terpaksa' dijual mahal. Berbeda halnya apabila memakai software grafis open source (atau proprietary tapi bajakan—seperti yang banyak terjadi di dunia desain grafis negeri ini) bisa dijual dengan sesuai pasar dan memiliki nilai HKI yang wajar sebab produk baru tersebut adalah milik kreasi individual yang dilindungi HKI, terlepas dengan software apa dibuatnya. Nah, apabila terlalu tinggi, kita juga tidak tahu respons pasar lokal seperti apa. Tentu dayabeli yang rendah dan budaya apresiasi yang kurang turut menentukan prospek bisnis ekonomi kreatif dan tentu berujung ke masalah 'kesejahteraan'.

Pemaknaan HKI dari sisi produk profesional dari seorang creator menurut pola open source adalah menggunakan fondasi-fondasi yang ada untuk menciptakan produk yang lebih baik. Kita tidak pernah membayar biaya lisensi kepada Archimedes apabila membuat produk fisika, atau Phytagoras ketika belajar matematika. Konsepnya kurang lebih sama. Basic-nya, pengetahuan itu Free. Dan harus bebas untuk disebarluaskan demi kemajuan umat manusia. HKI nya adalah adanya penghargaan/apresiasi akan hasil karya orang lain lebih kepada apresiasi skill, knowledge dan attitude (baca: kompetensi), sedangkan harga jual software menurut angka yang pantas dan non-monopolistik, dan ini adalah apresiasi yang jujur, bermakna dan universal daripada mental 'dagang barang' padahal hanya utk dipakai saja dan menciptakan ketergantungan. Menurut penulis, mental proprietary & closed source business itu tidak lebih baik daripada bandar narkoba.

Ilustrasi berikut bisa menunjukkan sedikit pandangan HKI dari pelaku open source. Beberapa waktu yang lalu telah dilaksanakan dengan sukses helatan akbar komunitas open source di Indonesia, yang diwakili organisasi AOSI, yaitu Global Conference on Open Source (GCOS). Acara dua hari yang berlangsung tanggal 26 dan 27 oktober ini dihadiri lebih dari 500 peserta dari 12 negara terdiri dari aktivis, pebisnis, pengguna hingga yang baru tertarik mengenai open source. Bahkan tokoh utama kita, RMS yang ternyata memang benar adanya bisa berbahasa Indonesia dan sedikit Jawa, menyempatkan diri untuk ceramah mengenai Free software di berbagai institusi di Indonesia walaupun acara GCOS telah selesai. Sebuah konferensi internasional yang menjadi catatan perkembangan Open Source di Indonesia hingga hari ini dan tentu menjadi salah satu tonggak sejarah open source di negeri yang pernah tiba-tiba menandatangani MoU dengan Microsoft ini.

Di event tersebut tampaknya terjawab sudah apakah pemerintah Indonesia mendukung (baca : melanjutkan) program Indonesia Go Open Source baik ditinjau dari segi kuantitas, skalabilitas diseminasi dan sosialiasinya semakin luas dan menggarap berbagai segmen masyarakat, juga ditinjau dari sisi kualitas untuk segala perbaikan di berbagai bidang. Adanya kontinuitas program IGOS oleh pemerintahan presiden SBY dengan slogan “Lanjutkan” ini disimbolkan serius dengan hadirnya di acara tersebut untuk membuka secara resmi, sebagai perwakilan pemerintah RI, Menkominfo baru, Tifatul Sembiring yang beberapa hari sebelumnya juga membuka sebuah Pesta masyarakat TIK yaitu Pesta Blogger 2009 di Gedung SMESCO, Jakarta. Tifatul juga mengisyaratkan dukungan dengan mengatakan pro open source.Hingar bingar dan kisah sukses GCOS pun dipotret banyak media baik lokal, nasional maupun internasional. Ini merupakan indikasi berlanjutnya program Indonesia Go Open Source di pemerintahan baru.

HKI ala Open Source
Jika berbicara HKI dan Open Source, seperti yang dijelaskan di tulisan mengenai HKI dan ekonomi kreatif, penegakan hukum dan penyadaran masyarakat merupakan dua agenda yang saling mengait dan menunjang satu sama lain. Jika penegakan hukum kurang efektif, tentu masyarakat tidak bisa kita harapkan secara sukarela 100% menghargai HKI. Demikian pula walaupun penegakan hukum berjalan lancar, belum tentu juga masyarakat menghargai HKI. Sebab kurangnya penyadaran di akar rumput pengguna teknologi informasi menyebabkan ketimpangan.

Masyarakat hanya akan mengetahui kampanye Be Legal, bukan kampanye Go Open Source!. Be Legal dengan membeli produk proprietary yang notabene mahal padahal ada padanannya yang hampir sama dengan value yang berbeda baik dari sisi penghematan dan sisi kehandalan yang lebih, bukan Go Open Source dengan cara Be Creative dan Be Innovative melalui pengembangan produk yang merangsang kompetisi, inovasi dan kreativitas, yaitu produk Open Source.

Fakta bahwa Open Source Software berkembang demikian pesat --selain dilihat dari suksesnya event GCOS-juga bisa kita lihat dari berkembangnya open source di “segitiga ABG” dimana Academic, Business, Government bersinergi membentuk segitiga tanpa putus dengan aktor keempat dan kelima (kombinasi aktor) menjadi role model yang baik untuk implementasi TIK di negeri ini (baca : implementasi Open Source).

Apa saja yang terjadi pada konsep ini? Ya, kenyataannya, pemilihan open source justru menjadikan pemerintahan SBY menjadi netral dari prasangka. Artinya, pemerintah sudah pula tidak memihak. Tidak seperti masa lalu. Masyarakat sudah mulai mengenal manfaat TIK dan manfaat Linux sebagai solusi utama, bukan lagi hanya alternatif. Seorang ibu rumah tangga bisa menggunakan Sistem operasi Linux yang "katanya" susah, siswa SMP dan SMA "getol" training open source. Pendidik dan pengajar belajar e-learning dan sudah memakai netbook atau laptop ber-OS Linux/FOSS atau OS Open source lainnya misalnya Open Solaris dengan berbagai pertimbangan intelektual. Juga kalangan bisnis berbisnis open source dengan lancar, mudah mendevelop aplikasi yang sumbernya bisa didapat di banyak tempat dan dijadikan aplikasi program solusi bisnis buatan mereka. Bahkan, ketika seseorang bersentuhan dengan teknologi internet, maka sudah memakai open source, baik sadar maupun tidak. Ya, web server yang dipakai adalah Apache, googling dengan google, dan multimedia saat ini pun sudah berpindah ke teknologi berbasis open source. Pembuatan animasi multimedia maupun game multimedia sudah memakai teknologi open source. Demikian juga bisnis dan aplikasi non TIK, semuanya bisa memakai open source.

Perusahaan Microsoftyang "terkenal" pun, ikut "latah" dengan mendirikan >proyek open source dengan alasan yang mudah ditebak : UUD (Ujung-ujungnya Duit). Walaupun selalu diselipkan nuansa CSR (Corporate Social Responsibility) dan ending war antara si perusahaan dengan pengguna open source yang menilai adanya praktik monopoli, pembodohan, dan membuat ketergantungan laiknya obat-obatan psikotropika berbahaya. Dasri sudut pandang lain, memang beberapa pengamat TIK (baca : bukan "pengikut" free software, hanya pengikut open source, atau bahkan pengguna proprietary legal-berbayar) mengatakan kalau inilah saat untuk tidak mempertentangkan antara Microsoft sebagai ikon Proprietary & Closed Source Software (PCSS) dengan Open Source yang berbasis komunitas dan menyambut era kolaborasi. Kalau mengambil istilah lokal ala produsen minuman teh kemasan botol, “apapun softwarenya mau terbuka atau tertutup, jalannya di Windows”.

Produk teranyar sistem operasi made in Microsoft, Windows 7, pun perlu bergerak cepat dan 'mengakali' Linus Torvalds, sehingga pernah terlihat si pencipta kernel Linux ini mengacungkan jempol utk produk andalan Microsoft di Jepang, pada saat simposium Linux disana. Memang, agar tidak ketinggalan momen, launching OS yang banyak 'dosa' ini pun sengaja dibuat berbarengan pada saat simposium sehingga Mr Torvalds, sang ikon Linux digiring sebagai 'joke' ke booth di seberang jalan. Hasilnya, foto terlihat sepertinya produk tersebut disukai oleh sang pencipta Linux! This is totally joke, >untuk lucu-lucuan di Simposium Linux di Jepang yang diakui oleh si fotografer sendiri. Hasil seperti Pro-Windows 7 ini sebenarnya terutama karena gap budaya, dimana di jepang biasanya kalau di foto, orang tersebut biasanya berpose dengan jari membentuk huruf “V”. Nah pria Finlandia ini refleknya ketika di depan kamera melakukan “thumps up”. Ini sekaligus klarifikasi juga bahwa torvalds bukanlah “penghianat” Open Source, sebagaimana RMS pernah menuding justru proprietary mencoba masuk ke dunia open source seperti contoh yayasan open source sebagai proyek untuk <>menjebak pelanggan ke dalam urusan “UUD”.

Satu lagi berita anyar, masih tentang produk sistem operasi baru dari perusahaan bisnis bentukan orang terkaya di dunia tersebut, ternyata belum-belum sudah ditantang secara gentle oleh salah satu evangelist Linux terkemuka, Mark Shuttleworth mengumumkan distro Linux terbaru mereka mampu mengalahkan produk OS tersebut. Wow!



Itulah sekelumit kisah dan karakteristik open source dan mengapa kita (baca : indonesia) harus menerapkannya. Selain tema kemandirian, solusi yang handal dan memiliki keunggulan-keunggulan plus yang customiseable sesuai keinginan konsumen, fitur-fitur aplikasinya juga tidak kalah dengan produk proprietary paling teranyar pun.

Penutup: The Open Source Way
Saat ini, kisah-kisah sukses wirausaha sukses dari korporasi besar maupun entrepeneur level internasional yang menulis kisah success story nya ke dalam bentuk buku. Salah satu yang populer mungkin “The Toyota Way”. Tidak hanya entrepreneur, “the xxx way” menjadi kosakata wajib bagi cara seseorang yang dianggap sukses menghadapi turbulensi dan manajemen perubahan (change management) misalnya “The Hiddink Way” atau “The Moreno Way” di sepakbola. Bukan hal yang kebetulan apabila penulis memberikan judul artikel panjang ini dengan nama “The Open Source Way”, sebab apabila kita melihat karakteristik yang, mungkin, pada awal tulisan saya sebut sebagai 'aneh' dan 'unik', maka bisa juga kita berikan atribut 'top markotop' dan selaras dengan jalan filosofi hidup, jalan hidup (way of life) yang menjadi tuntunan banyak masyarakat dunia. Sebut saja misalnya konfusianisme (way), bushido way (the way of warrior/samurai), jalan budha (budhist way), juga konsisten dengan cita-cita dan amal dalam dunia islam sebagai jalan hidup yang kafa'ah bagi pemeluknya. Apabila seseorang mengaku beriman, berislam dan ber-ikhsan, maka upaya-upaya menghindari dosa, mengharap pahala dan mengikuti jalan surga tentu akan mengikuti jalan open source (open source way) baik dalam hal menggunakan sehari-hari dengan alasan 'vertikal' semisal fatwa haram bajakan dan filosofi saling berbagi, juga menggunakan dalam hal bisnis dan pekerjaan dengan alasan 'horisontal' semisal reliabilitas, mudah digunakan (user friendly) dan bernilai ekonomis tinggi sebagai "barang jualan".

Jadi, ikuti Jalan Open Source. Merujuk istilah dari salah seorang pakar TIK yang terkenal, itulah jalan cinta, jalan kebenaran dan jalan para pedjoang...

ikuti tulisan bagian pertama


Selengkapnya...

Rabu, 28 Oktober 2009

The Open Source Way (Bag .1) Indonesia, HKI dan Segitiga ABG


Pengantar Tulisan
Dunia Open Source merupakan dunia yang unik, kalau tidak bisa dibilang aneh. Jika “tren” di era 1980-an adalah adanya gelombang menutup kode sumber (source code) yang dipelopori Bill Gates dengan Microsoftnya sehingga walaupun terkesan “pelit ilmu” namun terbukti sarana yang efektif untuk mendulang uang dari pelanggan. Oleh sebab itulah, sejak awal, bisa kita prediksi bagaimana teknologi yang dikembangkan “secara rahasia” ini mampu menjadi penyangga perekonomian para pelopornya. Bahkan dunia TIK pun menjadi latar bisnis permanen diantara top ten individu terkaya di dunia.

Sejak diciptakannya kernel Linux oleh mahasiswa Helsinki, Finlandia bernama Linus Torvalds di tahun 1991, gelombang berikutnya adalah semacam semangat “anti kemapanan” yang berkembang, dan biasanya, gairahnya menyentuh urat nadi para mahasiswa. Sama halnya dengan gairah akan aktivitas politik “tengil” ala Punk Rock sampai Che Guevara dan Marx di dada kaos merah mahasiswa. Ideologi “kiri” memang sangat “seksi”, dan wajar apabila “suara pembebasan” ini sangat santer di sanubari mahasiswa, sebab pubertas kemerdekaan dan kebebasan paling tinggi dialami generasi muda berusia 15 tahun hingga 30 tahun. Selebihnya, biasanya realistis menghadapi kenyataan dunia. :-)

Perkembangan selanjutnya, perusahaan top markotop dunia banyak tampil sebagai “evangelist” Open Source. Dua diantaranya yaitu Sun Microsystems dan Canonical. Jika Sun fokus ke pengembangan teknologi dan banyak diantaranya “dibuka” (baca : open sourced), salah satunya distro Open Source bernama Open Solaris (OSOL), maka Canonical langsung support di pengembangan distro Linux berlabel UBUNTU.

Nah, terkait dengan itu, sebagaimana pentingnya Sadar HKI dan Melek TI, ternyata Open Source lebih dari sekedar melek TI. Open Source juga memiliki makna interpretatif yang dahsyat. Terutama dalam konteks penghargaan hak atas kekayaan intelektual (HKI).

Segitiga ABG : (F)Aktor Penentu TIK di Indonesia.
Era baru ini ditandai dengan masa ekonomi berbasis ilmu pengetahuan (Knowledge Economy) dan karyawan yang memiliki pengetahuan (Knowledge Workers) sebagai asset penting perusahaan. Ide-ide kreatifitas yang dibangun oleh SDM berkualitas dan berpengetahuan membuat satu perusahaan dapat menungguli perusahaan yang lain. Post It Note sebagai contoh, adalah karya seorang karyawan IBM yang merasa ribet untuk mengatur perlengkapannya. Inovasi post it note distandardkan dan dipatenkan oleh IBM dan tak dinyata laku keras.

Namun masalah penegakan HKI menjadi simpang siur manakala di era Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini dimana pengetahuan (knowledge) adalah kata kuncinya. Hal ini disebabkan simpulan mengenai diskursus HKI di dunia TI dengan khazanah produk TI mulai dari software program hingga sistem operasi, mulai dari desain iklan flyer hingga ringbacktone, yakni isu Be Legal. Jawabannya adalah beli Lisensi produk-produk “modal kerja” dalam menghasilkan produk kreatif (creative product) atau, pilihan kedua yang tidak populer : memakai produk Open Source.

Dalam memaknai HKI dalam konteks TIK, terdapat stakeholder yang berperan sentral, yaitu Pemerintah, Kalangan Bisnis dan Kalangan Akademis (kampus dan sekolah). Istilah ini pertama muncul dari Kementrian ristek dan depkominfo, dua lembaga yang berperan strategis terhadap perkembangan TIK di Indonesia. Dari tiga “segitiga ABG” (Academic, Business, Government) hal yang menjadi fokus penting dan determinan dalam proses perkembangan TIK di Indonesia antara lain :

1.Sisi Pendidikan (Academic). Adalah pendidikan TIK yang bebas netral dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah (dikdasmen). Dalam hal ini, kurikulum Pendidikan, utamanya untuk matapelajaran terkait sekolah kejuruan di rumpun teknologi harus mampu menempatkan diri secara netral dalam pembelajaran. Seyogyanya pembelajaran TIK di sekolah ditingkatkan dengan berwawasan TIK namun tidak menyebabkan biaya pendidikan membengkak. Pemanfaatan TIK di sekolah harus bebas dari peningkatan biaya yang memberatkan banyak orangtua siswa. Jangan sampai beban TIK di sekolah begitu tinggi sehingga pemanfaatan TIK di sekolah hanya bisa dinikmati oleh sekolah “elit” atau yang memasang slogan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) atau Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Ini problema tersendiri di dunia pendidikan.

2.Sisi Bisnis (Business). Adalah pengadopsian teknologi seperti apa yang selain mewujudkan kemandirian, juga fleksible dan memenuhi syarat dari sisi bisnis. Jika pilihannya teknologi open source, tentu pebisnis open source memiliki preferensi sendiri mengapa memilih itu. Banyak hal, misalnya adanya push factor dari pemerintah yang mengeluarkan UU HKI, SK MenPAN yang mengisyaratkan secara eksplisit “migrasi” sistem menuju open source untuk seluruh kantor dan instansi dengan tenggat Desember 2011, juga pull factor dimana demand dari dunia bisnis mengisyaratkan dibutuhkannya aplikasi-apliksi berbasis open source untuk entreprise karena handal dan reliable untuk memperlancar proses bisnis (business process).

3.Faktor penting : yaitu pemerintah. Pada saat tulisan ini dibuat, pemerintahan SBY sedang menyusun kabinet baru yang berisi tokoh-tokoh yang beragam latar belakangnya, dengan komposisi Profesional sekitar 55% dan berasal dari Partai Politik 45%. Pertanyaan sederhana dari penggiat TIK baik di kalangan akademisi, praktisi maupun masyarakat yang memahami perlunya TIK. Apa yang akan terjadi kemudian? Bisakah Kementrian Ristek, Depkominfo, dan Depdiknas menjadi segitiga busur yang melengkung dan siap melepaskan anak panah ke arah Kemandirian Bangsa? Atau bakal ada lagi MOU dengan vendor sistem operasi Proprietary Jilid II? Kita bisa lihat nanti dan amati.


Jika akhir 2009 ini diisi oleh trend “open source” baik yang bersifat “free” maupun tidak, pertanyaan “serius”nya tentu untuk pemerintah. Mengapa, sebab dari seluruh sisi segitiga ABG, Pemerintah sangat sentral dalm hal formulasi kebijakan dan implementasinya. Pertanyaan yang sama tidak dapat digunakan untuk kalangan bisnis maupun kalangan akademik yang berkutat dengan pengembangan dan pengggunaan teknologi yang “tepat guna” secara langsung untuk kepentingan masing-masing.

Beranikah Pemerintahan baru mengimplementasikan penggunaan Open Source dalam rangka pemanfaatan TIK dan penghematan negara, juga melepaskan diri dari stigma negatif ala Priority Watch List bangsa ini sebagai bangsa pembajak? Kalaupun yakin IYA, tidak akan maksimal apabila tidak didukung total dan masih bersifat parsial, “kantormu urusanmu, departemenku urusanku”. Lalu apa solusi strategisnya? Masih adanya stereotype negatif “beda pemerintah, beda kebijakan” terus membayang-bayangi, utamanya dari dua lembaga strategis di bidang TIK, yaitu Kementrian Ristek dan Departemen Komunikasi dan Informatika. Ditunjang dengan keberadaan departemen-departemen yang juga menterinya baru, apa iya, ikrar “indonesia go open source” oleh departemen-departemen strategis tidak akan menjadi pepesan kosong belaka.


Untuk proses diseminasi dan sosialisasi Open Source adalah satu kata dari Kepala Pemerintahan. Ya, penulis berharap, Slogan Indonesia, Go Open Source (IGOS) yang jelas-jelas fait accomply menyebut nama INDONESIA diucapkan –walau sedikit-- oleh Presiden SBY. Penulis ingin sekali mendengar disebuah kutipan, seorang kepala negara menyebutkan “Indonesia, Go Open Source!”. Dengan komposisi historis feodal di negeri ini, proyek besar Open Source untuk Indonesia bisa berjalan, apabila puncak pimpinan memberikan “tuntunan” dan “arahan”. Jika Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (MenPAN) saja cukup powerful mendorong dinas-dinas dan pemerintah daerah migrasi ke Open Source dengan tenggat Desember 2011, tentu kalimat sakti SBY akan terdengar hingga pelosok. Mulai dari pegawai yang mengerti apa itu Open Source, hingga aparat pemerintahan yang seumur hidup belum pernah menyalakan komputer. Semua harus ke Open Source. Demikian bunyi SE MenPAN No. SE/01/Men.PAN/3/2009. Belum lagi kita masuk ke ranah religi dimana moral dan “surga neraka” menjadi bandulnya. Fatwa haram untuk produk bajakan, bagi sebagian besar umat muslim memberikan arti penting untuk memulai migrasi ke Open Source.

Dari berbagai sudut pandang, penggunaan peranti lunak legal dan Go Open Source sudah dikumandangkan jauh-jauh hari oleh berbagai instansi yang mewakili aspirasi dan penegakan hukum di negeri ini. Ada Undang-undang Hak Cipta. Ada pula Surat Edara Menkominfo dan Surat Edaran MenPAN. Juga shock therapy dimulai Kepolisian RI dengan Surat Edaran Bareskrimnya ke berbagai institusi swasta. Jangan sampai, berganti pemerintahan berganti pula kebijakan. Terbukti, mendorong implementasi TIK ke arah Open Source sulit sekali. IGOS Summit sudah beberapa kali digelar, institusi seperti LIPI pun banyak mengeluarkan kajian-kajian TIK yang berkesimpulan sama. Go Open Source. Masih bertahan dijalur “dakwah” dan “jihad” adalah Ristek yang mengembangkan IGOS Center, mengadakan lomba-lomba Linux & FOSS, juga Departemen Perindustrian dengan RICE dan bahkan, tak ketinggalan swasta misalnya SUN Indonesia dengan proyek COSTA nya. Sebelum semua kehabisan energi, eksekutif pemerintahan harus segera mengeluarkan pernyataan jantan mengenai masa depan Open Source di Indonesia.

Faktor lain terkait implementasi TIK (pelengkap di lapangan) adalah yang keempat, sudut pandang Masyarakat itu sendiri. Bagaimana masyarakat sebagai obyek sekaligus subyek dalam rangka sosialisasi TI dan penghargaan HKI. Simpelnya, bagaimana masyarakat melek TI sekaligus Sadar HKI. Ini membutuhkan kerjakeras dari segitiga ABG tersebut dimana peran integratif tentu ada pada tingkat diseminasi dan sosialisasi masif dari Open Source oleh lembaga-lembaga dan individual yang ada. Masyarakat tak akan sayang, apabila tak kenal. Solusi keamanan dan solusi sederhana yang mampu melekat di ingatan masyarakat, misal “Bebas Virus” tentu menjadi ramuan penting sajian Open Source di masyarakat.

Nah, ibarat isu “angkatan kelima” yang populer di masa Orde lama dulu, faktor atau aktor kelima yang bisa kita definisikan adalah perspektif penggabungan (integrasi) dari segitiga ABG yang membentuk ranah sosial kemasyarakatan. Perspektif ini diisi oleh komunitas-komunitas Open Source, idealis-idealis yang bergabung menjadi sebuah gerakan open source yang mendukung IGOS (Indonesia Go Open Source). Termasuk didalamnya kelompok pengguna Linux (KPLI), komunitas-komunitas pengembang open source, yayasan penggerak linux, Asosiasi bisnis di bidang open source, juga asosiasi profesional. Dari pemerintahan, memberikan program-program stimulan misalnya lomba-lomba creative design, lomba open source dan juga membentuk wadah untuk sosialisasi dan penetrasi lebih jauh, misalnya IGOS Center dan POSS oleh Ristek, FOSS ID yang disupport Depkominfo, ataupun RICE oleh Departemen Perindustrian.

bersambung ke bagian kedua/terakhir


Selengkapnya...

UC Visitors Country

free counters

UC Archive

UC Intellect Viewers

UC Followers

 

Copyright © 2009 by The Unggul Center